Penulis: Khaled
Hosseini
Penerjemah:
Berliani M. Nugrahani
Penyunting:
Pangestuningsih
Penerbit: Qanita (2003),
Cetakan II: April 2006 (Cetakan I: Maret 2006)
Harga : 69.000
“Sesuatu yang terjadi dalam
beberapa hari, kadang-kadang bahkan dalam sehari, bisa mengubah keseluruhan
jalan hidup seseorang.”
“Ada
jalan untuk kembali menuju kebaikan.”
Saya sendiri tidak
bisa berhenti buat baca buku ini, berat rasanya kalau harus ninggalin ataupun
baca setengah-setengah.
Saya suka sekali
buku ini sekaligus benci, benci dengan mirisnya kehidupan di dunia ini,
kekejaman, diskriminasi, kepengecutan..banyakkk banget deh yang ada di buku
ini.
Buku ini berlatar
belakang Afganistan.Bercerita mengenai Amir dan Hasan. Mereka di besarkan
bersama-sama, satu ibu penyusuan, namun nasib mereka sangat bertolak belakang
sekali. Amir dilahirkan sebagai anak dari keturunan kaum Pashtun yang sempurna, memiliki seorang ayah yang berpangkat dan
terpandang, namun sayang ibunya meninggal saat melahirkannya.
Sedangkan Hasan
terlahir sebagai kaum Hazara, kaum
rendah yang sering menerima pelakuan diskrimasi tak berprikemanusian. Hasan
adalah anak dari seorang pembantu yang telah lama mengabdi kepada keluarga
Amir. Kata pertama yang diucapkan Hasan-pun, bukan mama atau papa, tapi ia menyebutkan
”Amir”, mereka tumbuh bersama,bermain bersama.
Dengan adanya
perbedaan kelas diantara mereka, sering kali Hasan harus menerima penghinaan dari
lingkungan sekitar, sementara Amir hanya berdiam saja melihat keadaan itu.
Diceritakan Amir
adalah anak yang selalu ingin menarik perhatian dan kasih sayang ayahnya,
karena ayahnya selama ini sangat kaku dan kurang memperhatikannya. Dia tidak
menyukai olahraga (beda dengan harapan ayahnya), yang disukai adalah membaca
dan menulis dongeng.
Satu hari, namun
membawa dampak sampai seumur hidup. Hari itu datang, saat ada perayaan
layang-layang, Hasan mengejar layang-layang untuk Amir (Hasan adalah pengejar
layang-layang yang jago) sebagai tanda kemenangannya dan untuk ditunjukkan
kepada sang ayah (ayah Amir).
Hasan berhasil
mengejar layang-layang itu, namun sebelumnya dia harus menghadapi kenyataan
pahit untuk dapat tetap mempertahankan layang-layang itu demi Amir. Ia
dikeroyok oleh 3 orang temannya, dan menerima pelecehan. Amir mengetahui dan
melihat kejadian itu, namun dia terlalu pengecut untuk membela Hasan. Hingga
dia hanya berpura-pura tidak mengetahui kejadian itu. Hasan akhirnya dapat
memberikan layang-layang itu kepada Amir,sebagai tanda kemenangannya.
Semenjak hari
itu,semuanya berubah. Amir menjauhi Hasan bahkan berlaku jahat pada Hasan,
karena rasa bersalah yang selalu menghantui dia. Karena begitu bencinya dia
dapat mengeluarkan Hasan dan bapaknya dari rumahnya dengan menuduh mereka
pencuri, mereka dengan kesadaran sendiri keluar dari rumah itu, padahal ayah
Amir melarangnya, dan memaafkan mereka.
Bertahun-tahun
kemudian,karena keadaan politik di negara itu, mengharuskan Amir dan ayahnya
pindah ke Amerika secara diam-diam. Disana mereka hidup sangat sederhana.Disana
Amir menikah,dan mulai dapat hidup mapan, sementara ayahnya yang sudah tua
sudah meninggal.
Satu hari dia
menerima telepon dari teman ayahnya, untuk kembali ke Afganistan untuk dapat
menebus kesalahannya, tentu saja Amir terkejut dan kembali teringat akan Hasan.
Setelah tiba di negeri itu dengan susah payah, banyak kenyataan yang harus dia
terima. Kenyataan mengapa ayahnya begitu menyukai Hasan? kemanakah Hasan
sekarang? dan masih banyak lagi. Dia harus berjuang untuk menebus kesalahannya
yang telah menghantui dia sekian lama. sementara Hasan menikmati kehidupannya
bersama anak dan istrinya dengan tetap menaruh hormat kepada keluarga Amir.
Walaupun Hasan tahu, Amir tidak menolongnya saat dia mengalami kejadian tidak
mengenakkan itu.
Well ceritanya
bagus,dari awal kita langsung di bawa ke intinya.sampai pertengahan kita masih
dibuat heran, bagaimana kelanjutannya.
Cerita ini cukup
menyakitkan buat saya,menyakitkan melihat kehidupan seorang Hasan, Hasan kecil
yang harus tabah menerima segala diskriminasi. Menyakitkan betapa baiknya dan betapa
setianya Hasan bahkan hingga akhir kehidupan anak Hasan.
Selamat Membaca. (Mew)