Penulis: Eiji Yoshikawa
Penerbit: Zahir Books (Grup Penerbit RedLine)
Terbit: Juli 2010
Tebal: 750 hlm
Harga : 99800
Penerbit: Zahir Books (Grup Penerbit RedLine)
Terbit: Juli 2010
Tebal: 750 hlm
Harga : 99800
Saya sangat suka
novel ini karena berdasarkan sejarah dan tidak membosankan.
The Heike Story
berlatar belakang belakang abad 12 ketika kondisi sosial
dan politik khususnya di ibukota Kyoto sedang dalam keadaan kacau.
Kaisar ada tetapi roda pemerintahan dipegang oleh para
bangsawan Fujiwara yang menduduki pos-pos strategis di pemerintahan. Intrik
perebutan kuasa pun ada, salah satunya mantan kaisar yang ingin tetap memiliki
kekuasaan. Mantan kaisar sebenarnya memiliki istana sendiri juga yang disebut
Istana Kloister.
Saat itu, musuh tidak hanya pihak lawan tetapi bisa juga
kalangan biksu yang memberontak. Klan Samurai yang dipercaya oleh pemerintahan
pun bisa saja membela 2 pihak yang berlawanan walaupun satu klan. Contohnya
ketika Genji Tameyoshi yang membela Mantan Kaisar harus berhadapan dengan
putranya: Yoshitomo yang membela Kaisar, dalam peristiwa Hogen.
Di masa itu klan Heike dan klan Genji sangat bersaing. Heike yang saat itu kurang populer di pimpin oleh Tadamori, seorang pria miskin bertubuh kecil dan pendiam. Tadamori memiliki beberapa anak, salah satunya adalah Kiyomori.
Pada satu kesempatan Kiyomori dapat meredakan suatu pemberontakan hingga melahirkan pujian dan rasa hormat dari
beberapa biksu dari Gunung Hiei. Setelah keberhasilannya klan Heike maju dengan
pesat
Kiyomori punya kepribadian yang sederhana, blak-blakan dan ceria, sehingga membuatnya mudah disukai orang lain. Selain itu Ia adalah seorang pemimpin yang bervisi. Terbukti selama bertahun-tahun di bawah pengaruh Heike, rakyat mengalami hidup penuh kedamaian.
Membaca buku ini memang butuh perhatian ekstra karena begitu banyak intrik
antar tokoh. Selain itu banyaknya tokoh-tokoh yang bermunculan yang masih
memiliki benang merah dengan Kiyomori.
“Lonceng kuil menggemakan betapa mudahnya segala sesuatu
berubah. Warna-warni bunga menegaskan kenyataan bahwa apapun yang berkembang
dengan indah akan membusuk di kemudian hari. Kebanggaan hanya sejenak bertahan,
bagaikan mimpi di malam musim semi. Dalam waktu singkat, kedigdayaan akan
surut, dan segalanya akan menjadi debu yang tertiup angin.”