Sabtu, 25 Februari 2012

The Kite Runner

,
Penulis: Khaled Hosseini
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Penyunting: Pangestuningsih
Penerbit: Qanita (2003), Cetakan II: April 2006 (Cetakan I: Maret 2006)
Harga : 69.000

“Sesuatu yang terjadi dalam beberapa hari, kadang-kadang bahkan dalam sehari, bisa mengubah keseluruhan jalan hidup seseorang.”

“Ada jalan untuk kembali menuju kebaikan.”

Saya sendiri tidak bisa berhenti buat baca buku ini, berat rasanya kalau harus ninggalin ataupun baca setengah-setengah.

Saya suka sekali buku ini sekaligus benci, benci dengan mirisnya kehidupan di dunia ini, kekejaman, diskriminasi, kepengecutan..banyakkk banget deh yang ada di buku ini.

Buku ini berlatar belakang Afganistan.Bercerita mengenai Amir dan Hasan. Mereka di besarkan bersama-sama, satu ibu penyusuan, namun nasib mereka sangat bertolak belakang sekali. Amir dilahirkan sebagai anak dari keturunan kaum Pashtun yang sempurna, memiliki seorang ayah yang berpangkat dan terpandang, namun sayang ibunya meninggal saat melahirkannya.

Sedangkan Hasan terlahir sebagai kaum Hazara, kaum rendah yang sering menerima pelakuan diskrimasi tak berprikemanusian. Hasan adalah anak dari seorang pembantu yang telah lama mengabdi kepada keluarga Amir. Kata pertama yang diucapkan Hasan-pun, bukan mama atau papa, tapi ia menyebutkan ”Amir”, mereka tumbuh bersama,bermain bersama.

Dengan adanya perbedaan kelas diantara mereka, sering kali Hasan harus menerima penghinaan dari lingkungan sekitar, sementara Amir hanya berdiam saja melihat  keadaan itu.

Diceritakan Amir adalah anak yang selalu ingin menarik perhatian dan kasih sayang ayahnya, karena ayahnya selama ini sangat kaku dan kurang memperhatikannya. Dia tidak menyukai olahraga (beda dengan harapan ayahnya), yang disukai adalah membaca dan menulis dongeng.

Satu hari, namun membawa dampak sampai seumur hidup. Hari itu datang, saat ada perayaan layang-layang, Hasan mengejar layang-layang untuk Amir (Hasan adalah pengejar layang-layang yang jago) sebagai tanda kemenangannya dan untuk ditunjukkan kepada sang ayah (ayah Amir).

Hasan berhasil mengejar layang-layang itu, namun sebelumnya dia harus menghadapi kenyataan pahit untuk dapat tetap mempertahankan layang-layang itu demi Amir. Ia dikeroyok oleh 3 orang temannya, dan menerima pelecehan. Amir mengetahui dan melihat kejadian itu, namun dia terlalu pengecut untuk membela Hasan. Hingga dia hanya berpura-pura tidak mengetahui kejadian itu. Hasan akhirnya dapat memberikan layang-layang itu kepada Amir,sebagai tanda kemenangannya.

Semenjak hari itu,semuanya berubah. Amir menjauhi Hasan bahkan berlaku jahat pada Hasan, karena rasa bersalah yang selalu menghantui dia. Karena begitu bencinya dia dapat mengeluarkan Hasan dan bapaknya dari rumahnya dengan menuduh mereka pencuri, mereka dengan kesadaran sendiri keluar dari rumah itu, padahal ayah Amir melarangnya, dan memaafkan mereka.

Bertahun-tahun kemudian,karena keadaan politik di negara itu, mengharuskan Amir dan ayahnya pindah ke Amerika secara diam-diam. Disana mereka hidup sangat sederhana.Disana Amir menikah,dan mulai dapat hidup mapan, sementara ayahnya yang sudah tua sudah meninggal.

Satu hari dia menerima telepon dari teman ayahnya, untuk kembali ke Afganistan untuk dapat menebus kesalahannya, tentu saja Amir terkejut dan kembali teringat akan Hasan. Setelah tiba di negeri itu dengan susah payah, banyak kenyataan yang harus dia terima. Kenyataan mengapa ayahnya begitu menyukai Hasan? kemanakah Hasan sekarang? dan masih banyak lagi. Dia harus berjuang untuk menebus kesalahannya yang telah menghantui dia sekian lama. sementara Hasan menikmati kehidupannya bersama anak dan istrinya dengan tetap menaruh hormat kepada keluarga Amir. Walaupun Hasan tahu, Amir tidak menolongnya saat dia mengalami kejadian tidak mengenakkan itu.

Well ceritanya bagus,dari awal kita langsung di bawa ke intinya.sampai pertengahan kita masih dibuat heran, bagaimana kelanjutannya.

Cerita ini cukup menyakitkan buat saya,menyakitkan melihat kehidupan seorang Hasan, Hasan kecil yang harus tabah menerima segala diskriminasi. Menyakitkan betapa baiknya dan betapa setianya Hasan bahkan hingga akhir kehidupan anak Hasan.

Selamat Membaca. (Mew)






0 komentar to “The Kite Runner”

Posting Komentar